NAUZUBILLAH!!! 5 CIRI ORANG RAJIN SHALAT TAPI DIBENCI ALLAH ! No 3 sering dilakukan
Pernahkah terbayang di benak kita, ada orang yang keningnya menghitam karena sujud, namun justru menjadi sosok yang paling jauh dari rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala? Sungguh mengejutkan.
Ibadah yang seharusnya menjadi tiket emas menuju surga, malah bisa berbalik menjadi bumerang mematikan yang menghancurkan seluruh amal kebaikan kita tanpa sisa.
Mari kita bongkar rahasia besar ini secara mendalam, agar sujud dan rukuk yang kita lakukan selama ini tidak berujung pada kesia-siaan semata di hari penghakiman kelak.
Sebelum kita menyelami pembahasan yang sangat penting dan menyentuh relung hati ini, saya ingin mengajak sahabat semua untuk menekan tombol subscribe, like, dan membagikan video ini kepada keluarga, kerabat, serta orang-orang tercinta. Agar pesan kebaikan ini menjadi amal jariyah bagi kita bersama.
Mari kita penuhi dan terangi kolom komentar di bawah dengan lantunan shalawat yang tulus kepada Nabi Muhammad:
_Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad_
Sebagai bukti cinta sejati kita kepada Baginda Rasul.
Semoga setiap sahabat yang ikut bershalawat dan menyebarkan kebaikan ini senantiasa diberikan kesehatan yang paripurna, dijauhkan dari segala macam musibah, serta dilimpahkan rezeki yang berkah, melimpah ruah, dan datang dari arah yang sama sekali tidak disangka-sangka.
Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.
Kebaikan sekecil apapun yang sahabat lakukan pada hari ini bisa jadi adalah jalan pembuka bagi terkabulnya doa-doa besar yang selama ini sedang sahabat langitkan setiap malam dalam isak tangis di atas sajadah.
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Sahabat-sahabatku yang insyaAllah selalu berada dalam dekapan kasih sayang dan lindungan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Shalat adalah tiang agama dan amalan pertama yang akan dihisab secara detail di hari kiamat kelak. Namun, tahukah sahabat bahwa ada sebuah realita yang sangat mengejutkan dan mungkin seringkali luput dari pandangan kita sehari-hari.
Banyak di antara kita yang merasa sudah aman, tenang, dan dijamin masuk surga hanya karena tidak pernah meninggalkan shalat 5 waktu, rajin melangkahkan kaki ke masjid, bahkan sering menunaikan shalat sunnah di keheningan sepertiga malam terakhir.
Namun pada hakikatnya hati mereka begitu kering dan sangat jauh dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Fenomena ini bukanlah isapan jempol belaka atau sekadar cerita menakut-nakuti, melainkan sebuah peringatan keras yang telah disampaikan secara gamblang dalam Al-Qur’an dan hadis Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Sungguh sebuah kerugian yang teramat besar dan menyayat hati, apabila keringat, tenaga, dan waktu yang kita curahkan untuk beribadah tidak membuahkan kedekatan spiritual dengan Sang Pencipta, melainkan justru memperlebar jurang pemisah antara kita dengannya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak hanya melihat seberapa akurat gerakan fisik kita, melainkan Dia menatap langsung ke kedalaman hati kita yang paling tersembunyi. Melihat niat yang tak terucap, dan mengukur sejauh mana shalat tersebut membawa perubahan nyata dalam kelembutan akhlak kita sehari-hari.
Jika shalat yang kita dirikan dengan susah payah tidak mampu mencegah kita dari perbuatan keji dan mungkar, maka patutlah kita bertanya-tanya sambil menangis tersedu di hadapan-Nya, mempertanyakan kualitas penghambaan kita.
Mari kita bermuhasabah bersama, menurunkan ego kita sejenak, dan membuka pintu hati lebar-lebar untuk mengenali 5 ciri orang yang rajin shalat, namun hakikatnya sangat jauh dari Allah. Agar kita tidak termasuk ke dalam golongan orang-orang yang tertipu oleh amalnya sendiri di akhirat kelak.
*Ciri Pertama: Rajin shalat, tapi lisannya tajam*
Ciri pertama yang sangat mengejutkan dan seringkali tanpa sadar kita lakukan adalah rajin shalat, namun lisannya sangat tajam bagaikan pedang dan gemar menyakiti hati orang lain di sekitarnya.
Sahabatku, cobalah kita renungkan sejenak dengan hati yang tenang. Betapa banyak orang yang di dalam masjid terlihat begitu khusyuk memuji kebesaran Allah Subhanahu wa Ta’ala, menangis saat mendengar ayat suci dibacakan. Namun begitu kakinya melangkah keluar dari pintu masjid, lisannya kembali sibuk membicarakan aib saudaranya, memfitnah, mencaci maki, dan menyebarkan kebencian di tengah masyarakat.
Padahal dalam sebuah riwayat yang sangat masyhur, Nabi Muhammad pernah ditanya oleh para sahabat tentang seorang wanita yang rajin shalat malam, berpuasa di siang hari, dan rajin bersedekah. Namun ia sering menyakiti tetangganya dengan lisannya yang buruk.
Tahukah sahabat apa jawaban Nabi Muhammad yang sangat mengejutkan itu? Beliau dengan tegas mengatakan bahwa tidak ada sedikit pun kebaikan pada wanita tersebut dan tempatnya adalah di dalam neraka. Sungguh sebuah peringatan yang seharusnya membuat hati kita bergetar hebat.
Shalat seharusnya menjadi madrasah spiritual yang mendidik jiwa kita menjadi pribadi yang lembut, penuh kasih sayang, empati, dan selalu menjaga kehormatan orang lain. Jika lisan kita masih terasa ringan mengeluarkan kata-kata kotor, merendahkan martabat orang lain, atau asyik berghibah, menguliti keburukan saudara kita seolah memakan bangkainya sendiri, maka shalat kita barulah sebatas gerakan senam fisik yang hampa dan tidak memiliki ruh sama sekali.
Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Suci, Maha Indah, dan hanya menerima amal dari hati yang suci. Bagaimana mungkin Allah akan mendekat dan mengabulkan doa seorang hamba yang mulutnya penuh dengan kotoran ghibah dan kedengkian yang menyengat?
Oleh karena itu, mari kita jaga lisan kita sama ketatnya dengan kita menjaga batalnya wudhu. Ingatlah selalu sahabat, ibadah vertikal kita kepada Allah harus berbanding lurus dengan kebaikan horizontal kita kepada sesama manusia. Jangan biarkan pahala shalat kita habis dibagikan kepada orang yang kita caci maki.
*Ciri Kedua: Shalatnya dipenuhi penyakit riya’*
Ciri kedua dari orang yang rajin shalat tapi jauh dari Allah adalah ketika shalatnya dipenuhi dengan penyakit riya’, yakni rasa haus yang tak berkesudahan akan pujian, pengakuan, dan validasi dari mata manusia.
Penyakit hati yang satu ini sangatlah halus dan mematikan, sahabatku. Bahkan Nabi Muhammad mengibaratkannya seperti semut hitam yang berjalan perlahan di atas batu hitam yang pekat pada malam yang gelap gulita. Sangat sulit disadari kehadirannya.
Betapa sering kita merasa jauh lebih bersemangat memperindah bacaan Al-Qur’an dan memperlama durasi ruku serta sujud ketika ada orang lain yang melihat. Ketika ada mertua, atasan di tempat kerja, atau calon pasangan yang sedang memperhatikan gerak-gerik kita. Namun sebaliknya, tatkala kita sendirian di dalam kamar yang sepi tanpa ada satu pun mata manusia yang melihat, shalat kita kerjakan dengan sangat tergesa-gesa bagaikan burung pelatuk yang sedang mematuk makanan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sangat tegas memperingatkan kita dalam Surah Al-Ma’un:
_“Maka celakalah orang yang shalat, yaitu orang-orang yang lalai dari shalatnya, yang berbuat riya’.”_
Kata “celaka” atau _wail_ di sini bukanlah ancaman biasa, melainkan merujuk pada sebuah lembah mengerikan di neraka Jahanam yang disiapkan khusus bagi mereka yang berani mempermainkan ibadahnya demi mendapatkan pandangan kagum dari manusia.
Riya’ adalah bentuk kesyirikan kecil yang diam-diam menggerogoti dan menghancurkan keikhlasan hati kita dari dalam. Kita harus selalu bertanya pada nurani kita sendiri sebelum mengangkat tangan untuk bertakbir: Untuk siapakah aku berdiri menundukkan wajah saat ini? Apakah murni hanya mengharap ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala semata, atau sekadar mencari tepuk tangan dari makhluk-Nya yang fana dan lemah?
Mari kita bersihkan kembali niat kita. Sembunyikanlah amal ibadah kita sebagaimana kita mati-matian menyembunyikan aib dan dosa-dosa kita dari pandangan manusia.
*Ciri Ketiga: Selalu menunda-nunda waktu shalat*
Ciri ketiga yang patut kita waspadai dengan penuh kesadaran adalah mereka yang mengerjakan shalat namun selalu dengan sengaja menunda-nunda waktunya dan meremehkan panggilan agung dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Sahabatku yang baik hatinya, coba kita gunakan logika sederhana. Bayangkan apabila ada seorang atasan, tokoh penting, atau orang yang sangat kita hormati memanggil kita untuk sebuah urusan duniawi, pastilah kita akan bergegas datang merapikan diri tanpa menunda sedetik pun karena rasa segan, hormat, dan takut kehilangan peluang.
Namun pertanyaannya adalah: Mengapa ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala, Sang Pencipta alam semesta dan Raja dari segala raja, memanggil kita secara langsung melalui lantunan azan yang berkumandang merdu lima kali sehari, kita justru bersikap acuh tak acuh dan merasa tidak ada yang penting?
Kita seringkali dengan entengnya berkata: “Sebentar lagi, tanggung pekerjaanku belum selesai.” Atau, “Nanti saja shalatnya, episode filmnya sedang seru-serunya.” Tanpa sadar, kita telah menempatkan Allah di urutan paling akhir dalam daftar prioritas hidup.
Padahal waktu shalat adalah waktu pertemuan eksklusif di mana Allah sedang menunggu kita untuk mencurahkan rahmat, ampunan, dan kasih sayang-Nya yang tak terbatas.
Orang yang sering menunda shalat hingga mendekati akhir waktu tanpa adanya uzur syar’i yang dibenarkan agama, pada dasarnya sedang menunjukkan benih-benih kesombongannya di hadapan Allah. Mereka secara tidak langsung merasa bahwa urusan duniawinya, hartanya, dan pekerjaannya jauh lebih penting daripada menghadap Sang Pemberi rezeki itu sendiri.
Ketahuilah sahabat, berkah hidup, kelancaran pintu rezeki, dan kedamaian hati yang hakiki sangat bergantung pada bagaimana cara kita menghargai dan memuliakan waktu shalat. Jika kita selalu memprioritaskan dan mengutamakan Allah di awal waktu, maka yakinlah Allah pun akan mengutamakan kita dalam setiap urusan.
*Ciri Keempat: Shalatnya tidak mencegah dari maksiat*
Ciri keempat yang menjadikan seseorang rajin shalat tapi sangat jauh dari Allah adalah ketika shalatnya sama sekali tidak mampu menghentikan dirinya dari perbuatan maksiat, memakan harta yang diharamkan, dan melakukan kecurangan dalam hidupnya.
Sahabatku, esensi dan tujuan utama dari shalat yang sesungguhnya telah Allah Subhanahu wa Ta’ala jelaskan dengan sangat terang benderang dalam Al-Qur’an: bahwa shalat yang benar itu pasti akan mencegah pelakunya dari perbuatan keji dan mungkar.
Jika ada seseorang yang selalu rajin berada di saf terdepan setiap waktu shalat, namun tangannya masih terbiasa mengambil hak orang lain, menerima uang suap, melakukan korupsi di tempat kerja, atau menipu pembeli dalam berdagang, maka sudah pasti ada yang sangat salah dan rusak dengan ibadahnya.
Nabi Muhammad pernah menceritakan sebuah kisah pilu tentang seorang laki-laki yang menempuh perjalanan sangat jauh demi ketaatan. Rambutnya kusut masai dan tubuhnya berdebu. Ia menengadahkan kedua tangannya tinggi-tinggi ke langit seraya berdoa memelas: “Ya Rabbi, ya Rabbi.”
Namun sayangnya makanannya berasal dari yang haram, minumannya haram, pakaian yang melekat di tubuhnya haram, dan ia dikenyangkan dengan harta yang haram. Maka Nabi bertanya dengan retoris: “Bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan oleh Allah?”
Begitu pula dengan kualitas shalat kita, sahabat. Shalat bukanlah alat pencuci dosa instan yang memperbolehkan kita untuk dengan bebas berbuat maksiat kembali setelah salam. Shalat adalah komitmen harian, sebuah janji suci kita kepada Allah untuk tunduk patuh pada seluruh aturan dan larangan-Nya di luar waktu shalat.
*Ciri Kelima: Rajin shalat tapi sombong*
Ciri kelima yang mungkin paling mengejutkan dan sering menjadi jebakan paling mematikan dari setan bagi para ahli ibadah adalah rajin shalat, namun di dalam relung hatinya tumbuh subur benih kesombongan. Merasa dirinya paling suci dan dengan mudahnya merendahkan orang lain yang dianggap lebih banyak dosa.
Sahabatku, mari kita ingat kembali sejarah penciptaan. Iblis diusir dari surga yang penuh kenikmatan bukan karena ia tidak berilmu atau kurang beribadah. Iblis diusir dan dilaknat semata-mata karena kesombongannya yang merasa lebih mulia dan lebih baik dari Nabi Adam.
Terkadang ketika Allah dengan kasih sayang-Nya memudahkan langkah kita untuk rajin beribadah ke masjid dan bangun di malam hari, setan datang menyusup dengan halus, membisikkan rasa bangga diri atau _ujub_ ke dalam dada kita. Kita mulai memandang remeh tetangga yang jarang terlihat di masjid. Kita mulai menatap sinis dan menghakimi orang-orang yang belum sempurna menutup auratnya. Dan dalam hati kita bergumam dengan angkuhnya: “Aku jauh lebih baik dari mereka. Tempatku pasti di surga VIP, sedangkan mereka pasti akan masuk neraka.” Astaghfirullahal ‘Azim.
Mari kita memohon ampun, sahabatku. Sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala sangat membenci hamba yang merasa dirinya suci dan bersih dari dosa. Kita tidak pernah tahu rahasia akhir hayat seseorang. Bisa jadi seorang pendosa yang di malam hari menangis tersedu-sedu, meratapi dan menyesali dosa-dosanya dengan penuh ketulusan, jauh lebih dicintai dan diampuni oleh Allah daripada seorang ahli shalat yang selalu membanggakan amalannya sendiri.
Kesombongan spiritual ini adalah hijab atau penghalang yang paling tebal dan gelap antara seorang hamba dengan Tuhannya. Orang yang benar-benar dekat dengan Allah melalui shalatnya justru akan semakin menunduk tawadhu seperti padi yang semakin berisi semakin merunduk.
*Penutup*
Sahabat-sahabatku yang dirahmati Allah, setelah kita merenungkan secara mendalam kelima ciri tadi, rasanya hati ini tertampar dengan sangat keras dan menyadarkan kita dari tidur panjang kelalaian.
Kita disadarkan secara penuh bahwa ibadah shalat bukanlah sekadar tentang menggugurkan kewajiban fardhu harian belaka agar terlepas dari tuntutan syariat, melainkan tentang bagaimana kita membangun sebuah hubungan batin yang sangat intim, kuat, dan penuh kerendahan hati dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala, Sang Pemilik jiwa.
Sungguh kita harus banyak-banyak meneteskan air mata, memohon ampun, dan beristighfar atas shalat-shalat kita yang mungkin selama ini kosong dari rasa khusyuk, penuh dengan niat riya’, dan terkotori oleh akhlak kita yang buruk di luar masjid.
Namun, janganlah pemahaman ini membuat kita merasa berputus asa dari rahmat Allah atau bahkan memutuskan untuk berhenti melakukan shalat dengan alasan yang keliru: “Percuma saja shalat kalau hatiku masih kotor dan kelakuanku belum baik.” Ketahuilah, pikiran semacam itu adalah tipu daya setan level tertinggi untuk menjauhkan kita sepenuhnya dari agama.
Justru dengan menyadari segala kekurangan dan kelemahan ini, kita harus semakin bersemangat untuk memperbaiki kualitas shalat kita dari waktu ke waktu. Jadikanlah shalat sebagai waktu jeda terindah dan oase penyejuk dari hiruk pikuk urusan dunia yang sangat melelahkan jiwa ini.
Saat kita mengangkat tangan mengucapkan takbiratul ihram, buanglah seluruh beban dan urusan dunia ke belakang punggung kita. Rasakanlah kebesaran dan keagungan Allah menyelimuti seluruh relung jiwa kita. Saat kita membungkuk dalam ruku, tundukkanlah segala bentuk kesombongan dan ego kita serendah-rendahnya. Dan saat kita meletakkan kening kita di atas bumi dalam sujud, berbisiklah ke tanah dengan doa-doa tulus dan tangisan penyesalan yang niscaya akan terdengar menggema hingga ke pintu-pintu langit.
Ingatlah selalu bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Pintu taubat-Nya selalu terbuka lebar siang dan malam bagi hamba-Nya yang mau kembali bertobat.
Alhamdulillah tidak terasa kita sudah berada di penghujung perenungan spiritual yang sangat mendalam dan menyentuh hati ini. Terima kasih banyak dari lubuk hati yang paling dalam kepada sahabat semua yang telah setia menyimak dengan hati yang terbuka dan pikiran yang jernih dari awal hingga akhir pembahasan kita.
Saya secara pribadi sangat ingin mengenal sahabat-sahabat yang luar biasa ini lebih dekat lagi. Coba sapa saya di kolom komentar di bawah ini dengan menuliskan, dari daerah mana atau kota mana sahabat berasal. Sambil menuliskan asal daerah tempat tinggal sahabat, mari kita jadikan kolom komentar video ini sebagai taman doa yang sangat indah dan mustajab.
Tuliskan doa, harapan, cita-cita, atau hajat terbesar yang paling sahabat harapkan agar segera dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di tahun ini. Siapa tahu di antara ribuan pasang mata tulus yang membaca komentar sahabat, ada malaikat yang turut mengaminkan dan ada doa dari saudara seiman yang sedang berada pada derajat mustajab sehingga hajat sahabat segera diijabah oleh Allah.
Jangan pernah lupa untuk terus menjaga shalat 5 waktu di mana pun sahabat berada. Perbaiki kualitas diri kita setiap hari tanpa kenal lelah. Dan tebarkanlah kasih sayang, senyuman, dan kebaikan kepada sesama manusia di lingkungan sahabat.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa membimbing setiap langkah kaki kita di jalan yang lurus, mengampuni segala dosa-dosa masa lalu kita, dan pada akhirnya mengumpulkan kita semua kelak di dalam keindahan Surga Firdaus bersama panutan kita, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Sampai jumpa di kesempatan penuh berkah berikutnya. Tetaplah menjadi pribadi yang tenang dalam menghadapi ujian, pemaaf kepada yang bersalah, dan selalu bersyukur dalam segala keadaan yang Allah tetapkan.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
---