Profil

SEREM..!! Rajin Baca Al-Qur'an Siang Malam, Tapi Justru Al-Qur'an Melaknatnya. Kok Bisa? baca ... Silahkan baca ...

Table of Contents
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Sahabatku, teman muhasabah yang dirahmati Allah.

Pernahkah terbayang di benak kita sebuah pemandangan yang sangat kontradiktif dan mengerikan di akhirat nanti?

Bayangkan seseorang yang di dunianya dikenal sangat alim. Lisannya selalu basah. Siang dan malam ia melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Suaranya merdu, bacaannya fasih, tajwidnya sempurna.

Di rumahnya tumpukan mushaf berjejer rapi. Di bibirnya hafalan ayat mengalir deras seperti air. Orang-orang memanggilnya Ahli Qur’an. Keluarganya bangga, tetangganya segan.

Ia datang menghadap Allah dengan membawa ribuan kali khatam Al-Qur’an. Ia berharap Al-Qur’an itu akan datang sebagai syafaat, sebagai pembela, sebagai cahaya yang menuntunnya ke surga.

Namun apa yang terjadi?
Demi Allah, ini adalah kisah nyata yang diperingatkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Saat ia berdiri di hadapan Allah, Al-Qur’an itu memang datang. Tapi ia tidak datang untuk membela. Ia tidak datang untuk memberi syafaat.

Al-Qur’an itu justru datang untuk menuntutnya. Al-Qur’an itu datang untuk melaknatnya.

Ayat-ayat yang dulu ia baca dengan indah kini berubah menjadi hujah yang menyeretnya ke dalam api neraka. Na’udzubillah min dzalik.

Bagaimana mungkin? Bukankah membaca satu huruf saja dapat 10 kebaikan? Kenapa ibadah yang paling mulia ini justru menjadi penyebab kebinasaan?

Sahabatku, siapkan hati yang lapang. Di 15 menit ke depan, mari kita menangis bersama merenungi nasib diri kita. Jangan-jangan kita termasuk di dalamnya.

*1. Hadis Tentang Orang Yang Dilaknat Al-Qur'an*

Ketahuilah bahwa tidak semua air hujan menumbuhkan tanaman. Ada hujan badai yang justru menghancurkan panen. Begitu juga dengan bacaan Al-Qur’an.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, manusia yang paling mencintai Al-Qur’an pernah bersabda dengan wajah yang serius. Sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu yang bunyinya membuat para sahabat gemetar:

*"Rubba qaari'il qur'aani wal qur'aanu yal'anuhu"*
Artinya: _“Betapa banyak orang yang membaca Al-Qur’an, namun Al-Qur’an justru melaknatnya.”_

Kalimat ini pendek tapi tusukannya sampai ke ulu hati. "Banyak". Nabi bilang banyak, bukan sedikit. Artinya fenomena ini umum terjadi. Mungkin terjadi di masjid-masjid kita, di rumah-rumah kita, atau bahkan di lisan kita sendiri saat ini.

Apa arti dilaknat? Dilaknat artinya dijauhkan dari rahmat Allah. Bayangkan kita sedang membaca Kalamullah, perkataan Allah untuk mencari rahmat. Tapi yang didapat malah pengusiran dari rahmat itu.

Mengapa Al-Qur’an bisa marah? Karena Al-Qur’an bukan sekadar susunan huruf untuk disenandungkan. Al-Qur’an adalah ruh. Al-Qur’an adalah pedoman hidup. Jika kita membacanya tapi kita mengkhianati isinya, maka huruf-huruf itu akan menuntut pertanggungjawaban.

*2. 7 Sebab Al-Qur'an Melaknat Pembacanya*

Mari kita bedah satu persatu. Dosa-dosa tersembunyi apa yang membuat seorang pembaca Al-Qur’an justru dimusuhi oleh kitab sucinya sendiri.

*Sebab Pertama: Membaca Tapi Tidak Mengamalkan*
Ini yang paling sering terjadi. Membaca ayat larangan tapi ia sendiri yang melanggarnya saat itu juga.

Berapa kali lisan kita membaca: _"Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain."_
Ayat itu keluar dari mulut kita dengan tajwid yang fasih. Tapi beberapa menit setelah menutup mushaf, mulut yang sama digunakan untuk membicarakan aib tetangga.

Saat itulah Al-Qur’an melaknat: _"Wahai Fulan, kau baca laranganku, tapi kau injak-injak hukumku."_

Imam Al-Ghazali pernah menyindir: _"Seseorang membaca dalam Al-Qur’an laknat Allah atas orang-orang yang berdusta. Padahal dia sendiri adalah pendusta. Maka tanpa sadar dia sedang mendoakan laknat untuk dirinya sendiri."_

*Sebab Kedua: Riya, Ingin Dipuji Manusia*
Ini kisah tentang orang pertama yang diseret ke neraka. Bukan pembunuh, bukan pezina, tapi seorang qari, pembaca Al-Qur’an.

Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bercerita tentang pengadilan akhirat. Didatangkanlah seorang yang semasa hidupnya rajin membaca dan mengajarkan Al-Qur’an.

Allah bertanya: _"Apa yang telah engkau lakukan dengan nikmat-Ku?"_
Orang itu menjawab: _"Ya Allah, aku membaca kitab-Mu siang dan malam dan aku mengajarkannya karena Engkau."_

Allah berfirman: _"Engkau dusta."_
Malaikat pun berseru: _"Engkau dusta."_
Allah berfirman: _"Engkau membaca Al-Qur’an hanya supaya orang-orang memanggilmu qari. Supaya engkau disebut ahli ibadah. Dan gelar itu sudah engkau dapatkan di dunia."_

Pujian: "MasyaAllah, suaranya merdu. Hebat hafalannya." Itulah upahmu. Sudah lunas di dunia. Di sini tidak ada lagi bagian untukmu. Lalu orang itu diseret wajahnya di atas tanah dan dilemparkan ke dalam api neraka.

*Sebab Ketiga: Bacaannya Tidak Melewati Tenggorokan*
Nabi menyebut kaum yang membaca Al-Qur’an tapi bacaannya _“la yujawizu hanaajirahum”_ tidak melewati tenggorokan mereka.

Suara mereka berdengung kencang, keluar lewat mulut dengan fasih. Tapi getaran ayat itu berhenti di leher, tidak turun ke dada, tidak meresap ke dalam kalbu.

Hati mereka keras membatu. Mereka hafal ribuan ayat tapi akhlaknya buruk. Suka marah, suka mencaci maki, merasa diri paling benar.

Inilah ciri kaum Khawarij. Mereka rajin shalat sampai jidatnya hitam. Rajin puasa sampai badannya kurus. Rajin baca Qur’an, suaranya seperti lebah. Tapi Nabi menyebut mereka "anjing-anjing neraka". Karena Al-Qur’an tidak melembutkan hati mereka. Justru membuat mereka sombong.

*Sebab Keempat: Mengejar Kuantitas, Meninggalkan Kualitas*
Kita bangga: "Alhamdulillah bulan ini sudah khatam 3 kali. One day one juz." Itu bagus. Tapi perhatikan cara bacanya.

Banyak yang karena ingin cepat selesai satu juz bacanya ngebut. Hurufnya tertabrak-tabrak. Panjang pendek mad dilanggar. Dengung ghunnah dihilangkan. Yang penting selesai.

Padahal Allah memerintahkan: _"Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan atau tartil."_
Al-Qur’an dilaknat bagi mereka yang membacanya seperti memakan kurma busuk. Cepat asal-asalan tanpa rasa hormat.

Allah tidak akan bertanya berapa kali kamu khatam. Tapi Allah melihat bagaimana caramu berinteraksi dengan firman-Ku. Satu ayat yang dibaca dengan air mata jauh lebih berat daripada 30 juz yang dibaca seperti burung berkicau tanpa makna.

*Sebab Kelima: Menjual Ayat Allah Dengan Harga Murah*
Mereka menggunakan Al-Qur’an untuk tujuan duniawi semata. Membaca Qur’an kalau ada amplopnya. Mengajarkan Qur’an kalau ada bayarannya. Menggunakan dalil-dalil Al-Qur’an untuk membenarkan kebatilan demi menyenangkan atasan, pejabat, atau demi popularitas.

Rasulullah bersabda: _"Bacalah Al-Qur’an dan mintalah pahala kepada Allah dengannya. Karena nanti akan datang suatu kaum yang membaca Al-Qur’an lalu mereka meminta-minta harta kepada manusia dengannya."_ HR. Tirmidzi

*Sebab Keenam: Tidak Dijadikan Cahaya di Hati Saat Ujian*
Ada kisah di zaman tabiin. Seorang lelaki hafal Al-Qur’an, ikut berperang di jalan Allah. Saat sakaratul maut karena sakit yang luar biasa, ia bunuh diri.

Ternyata selama ini ia berjuang bukan karena Allah. Ia berjuang agar disebut pemberani. Hafalan Qur’annya tidak mampu mencegahnya dari putus asa. Al-Qur’an ada di kepalanya, tapi tidak menjadi cahaya di hatinya.

*Sebab Ketujuh: Hati Masih Kotor Saat Membaca*
Jika kita baca Qur’an tapi hati terasa gersang, jangan salahkan Qur’annya. Salahkan wadahnya. Hati kita yang mungkin masih kotor oleh dosa maksiat, dosa makanan haram, atau dosa kesombongan.

*3. Muhasabah dan Doa Penutup*

Pertanyaan untuk saya pribadi dan untuk Bapak Ibu semua:
Kapan terakhir kali kita membaca Al-Qur’an dan kita merasa "ayat ini sedang menegur saya"?

Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, sosok yang gagah perkasa pingsan saat mendengar satu ayat tentang azab dibacakan. Ada bekas garis hitam di pipinya karena seringnya menangis. Itulah interaksi yang benar. Hati yang hidup.

Mari perbaiki adab kita. Sebelum membuka mushaf, istighfar dulu. Bersihkan mulut, wudhu yang sempurna. Lalu niatkan: _"Ya Allah, aku ingin bicara dengan-Mu. Berilah aku petunjuk. Tegurlah aku jika salah."_

Jadikan Al-Qur’an sebagai cermin. Lihat kekurangan diri kita di sana.

Waktu kita tidak banyak. Sebentar lagi mushaf yang kita pegang akan tertutup selamanya. Di dalam kubur yang gelap dan sempit sendirian, hanya Al-Qur’an yang bisa datang menemani kita. Berwujud sosok pemuda yang indah dan harum. Ia akan berkata: _"Jangan takut. Aku adalah Al-Qur’an yang dulu kau baca sampai kerongkonganmu kering, yang dulu kau amalkan isinya."_

Tapi jika kita salah niat, yang datang adalah sosok mengerikan yang melaknat kita.

*Doa:*
_Ya Allah, ya Rabbana, jadikanlah Al-Qur’an ini sebagai cahaya di hati kami, pelipur lara kesedihan kami. Jangan jadikan Al-Qur’an sebagai musuh yang menuntut kami di hari kiamat nanti. Ya Allah, ampunilah jika selama ini bacaan kami penuh dengan riya, penuh dengan ketergesaan, dan jauh dari pengamalan. Lembutkanlah hati kami yang keras ini agar bisa menangis saat membaca ayat-Mu. Jadikanlah kami Ahlul Qur’an yang Engkau cintai. Allahummarhamna bil Qur’an. Jadikan ia pemimpin, cahaya, petunjuk, dan rahmat bagi kami. Aamiin ya rabbal ‘alamin._

Terima kasih sahabat sudah menyimak sampai akhir. Semoga video ini menjadi titik balik bagi kita untuk memperbaiki hubungan kita dengan Al-Qur’an. Bukan sekadar mengejar khatam, tapi mengejar paham dan amal.

Sampai jumpa di renungan berikutnya.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

---


bawah ya