Profil

NAUZUBILLAH !! PERBUATAN INI TERNYATA DAPAT MELECEHKAN APA YANG ALLAH AGUNGKAN – UST ADI HIDAYAT

Table of Contents

Jadi kalau ada orang berumah tangga sampai detik ini belasan tahun, puluhan tahun, hanya untuk menyatu saja, memadu kasih, cinta, rindu... dan belum mampu mendekatkan dirinya dengan Allah, maka ada yang belum sempurna dalam kehidupan rumah tangganya. 

Pelecehan yang dilakukan oleh hamba itu dijadikan oleh Allah sebagai dosa yang sangat besar. Kenapa? Karena Anda itu orang terhormat, tinggi. Jangan merendahkan status kehormatan di hadapan Allah dengan melakukan perbuatan yang menyalahi ayat-Nya.

Kemudian setelah itu:  
_Wakhalaqnakum azwaja_  
"Dan Kami telah menciptakan kalian dengan fitrah untuk berpasangan."  
Azwaj, jamak dari kata _zauj_. Apa itu _zauj_? 

Baik, ini bagian penutupnya. _Wakhalaqnakum azwaja_.  
Kalau _khalaq_ itu kata kerja. Kalau kata benda, isim fa'ilnya pelakunya disebut _Khaliq_. Jadi yang bisa _khalaq_ itu hanya siapa? _Khaliq_. Yang mencipta itu siapa? _Khaliq_. Dialah Allah.

"Wa ana" kata Allah, dengan keagungan-Ku. Perhatikan ketika berpindah pada ayat 8 menggunakan kata _khalaqa_ dan pakai _khalaqna_. Rumus cepat: kalau dalam Quran ada ayat yang menggunakan _na_, _inna anzalna_, jelas _khalaqna_... ini menunjukkan peristiwa itu begitu penting dan agung, sampai Allah menghadirkan keagungan zat-Nya. Berubah dari _tu_ menjadi _na_. 

"Dan Aku ciptakan kalian berpasangan." 

Jadi Bapak Ibu sekalian, keberpasangan itu ditempatkan oleh Allah sebagai sesuatu yang agung, yang istimewa. Bukan sesuatu yang main-main.

Dan yang dimaksud berpasangan ini di sini nanti ditafsir lagi. Bagaimana cara berpasangannya?  
Ya Allah turunkan Quran Surah ke-30 ayat 21. Ini yang sering kali dicantumkan dalam surat undangan itu, sebelum akadnya dimulai.  
Quran Surah 30 ayat 21. Perhatikan baik-baik, pelan-pelan:

_Wamin ayatihi an khalaqakum min anfusikum azwaja_  
"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri."

Perhatikan baik-baik Bapak Ibu sekalian. Keberpasangan ini sebelum terjadi itu didahului oleh Allah dengan kata _ayat_. Bentuknya jamak. 

Satu ayat ini bagian terakhir dari kajian kita.  
_Ayat_ itu jamak dari kata _ayatan_. _Ayatun_ jamaknya _ayat_ yang artinya apa?  
Bukan sekadar tanda. Tanda itu banyak. Dalam bahasa Arab ada _alamat_. Pernah dengar _alamat_? Itu dari bahasa Arab. _Alamat_ itu tanda yang mendekatkan pada... Di mana alamatnya Masjid An-Nur? Oh Jalan Benda sekian sekian sekian. Ketika Anda tahu alamatnya, Anda semakin dekat untuk sampai ke tujuan. Kalau tak tahu alamat, Anda berputar-putar.

Tapi _ayat_ hanya disebutkan dalam bahasa Arab untuk menunjuk tanda yang mendekatkan seorang hamba kepada Allah. Tanda yang mendekatkan makhluk kepada Allah.  
Jika bentuknya _ayat_ berarti bukan sekadar dekatkan satu tanda. Banyak segala hal yang terjadi di dalamnya yang berpotensi mendekatkan seorang hamba kepada Allah.

Maaf, saking tingginya sifat kebersamaan, saking agungnya, Allah membuka dengan kalimat _ayat_ untuk memberikan kesan bahwa satu niat untuk berpasangan itu... dalam bahasa singkatnya untuk menikah, untuk berumah tangga... yang menjadikan kehidupan seorang hamba berpasangan.

Kata Allah: kalau memang ingin berumah tangga yang benar, berumah tangga yang nyaman, rumah tangga yang baik, maka jadikan niat pertamanya bukan hanya untuk bersatu. Tapi diniatkan untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Jadi kalau ada orang berumah tangga sampai detik ini belasan tahun, puluhan tahun, hanya untuk menyatu saja, memadu kasih, cinta, rindu... dan belum mampu mendekatkan dirinya dengan Allah, maka ada yang belum sempurna dalam kehidupan rumah tangganya. Ada yang belum tepat, ada yang masih kurang.

Lebih daripada itu, karena dibuka dengan kata _ayat_, maka kebersamaan itu dan keberpasangan itu bukan main-main, bukan sembarangan. Apalagi untuk melakukan perbuatan maksiat. 

Karena itulah zina menjadi dosa di antara dosa yang besar. Karena bukan sekadar dikerjakan, tapi juga melanggar lafaz _ayat_ di dalamnya. Ketika Allah tempatkan dalam situasi yang agung, malah dilecehkan, maka menjadikan bagian dari itu konsekuensinya dosa yang sangat besar.

Ya maaf, kalau ada orang misalnya... air zamzam itu zamzam istimewa enggak? Agung enggak? Tiba-tiba ada orang ke situ pipis di atas sumur zamzam misalnya, kira-kira bagaimana responnya? Bukan hanya tidak terhormat, bisa terancam keadaan dirinya kan?

Ada orang yang sengaja melecehkan apa yang Allah agungkan, maka pelecehan yang dilakukan hamba itu dijadikan Allah sebagai dosa yang sangat besar. Karena agung. 

Karena itu Allah jadikan proses berumah tangga dengan cara yang terhormat: ada ta'aruf, ada saling mengenal, ada pemberian mahar. 

Makanya para akhwat saya sering katakan: jangan mau dianggap rendah. Jangan mau diperlakukan rendah. Anda itu istimewa di hadapan Allah.  
Ikhwan juga demikian. Jangan merendahkan status Anda di hadapan Allah dengan melakukan tindakan yang tidak terpuji. Belum apa-apa boncengan berdua. Boncengan milik bersama, tukang bonceng enggak dianggap. Apalagi sudah melepaskan kehormatannya. Ah rendah itu. Jangan.

Anda terhormat. Makanya perempuan kan enggak boleh disentuh kecuali sudah melalui sesuatu yang istimewa. Kalau sudah melakukan hal yang... Anda istimewa, prosesnya istimewa, maka jalani itu sebagaimana Allah telah menempatkannya, itu indah.

Karena itu kalau ada orang ngajak belum sah belum halal, "ayo naik motor berdua" enggak mau. "Ah setelah abang punya BPKB baru aku mau". Ini ada BPKB-nya bukan buku pernikahan kita berdua. 

Jadi maaf ya, pernikahan itu agung, zina rendah. Jadi jangan mau dipermainkan. Jangan mau dibawa oleh suasana, ada kebudayaan macam-macam dan sebagainya. Itu enggak sadar. Kadang-kadang Anda itu orang terhormat tinggi. Jangan merendahkan status kehormatan di hadapan Allah dengan melakukan perbuatan yang menyalahi ayat-Nya.

Satu, dua. Saya belum ke tauhid ya.

Dua, perhatikan baik-baik. _Azwaj_ jamak dari kata apa? _Zauj_. Apa artinya _zauj_? Pasangan.  
Pasangan itu bersumber dari yang sama atau dari yang beda? Nah itu dia kuncinya. Bisa jadi pasangan kalau beda. Kalau sama itu bukan pasangan.

Mana sepatu saya ini Pak, kok cuma satu? Sepasang begitu dihadirkan sepasang. Bukankah kanan dan kirinya beda? Coba kalau ada sepatu kanan kirinya sama bentuknya bisa dipakai enggak? Enggak bisa.  
Disebut sepasang itu kalau beda. Tangan sepasang, sama-sama tangan, sama-sama jarinya lima, tapi kan kanan dan kiri beda. Kaki juga begitu.

Jadi ketika disebut _zauj_ itu sudah fitrahnya bisa berpasangan kalau berbeda. Sama-sama manusia tapi ada laki-laki ada perempuan. Itu yang dimaksud Quran Surah 49 ayat 13:  
_Ya ayyuhan nasu inna khalaqnakum min dzakar wa untsa_  
"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan."

Bedanya mesti ada laki-laki, mesti ada perempuan, baru disebut _zauj_. Kalau laki-laki dan laki-laki bukan _zauj_ namanya. Asep dan Indra bersamaan itu bukan _zauj_. Perempuan dengan perempuan bukan _zauj_. Makanya enggak bisa disebut pasangan.

"Ah telah datang pasangan itu" kok dua-duanya maaf lambai ya gitu. Itu bukan pasangan ya, itu halangan. Jelas. 

Maka tidak dibenarkan dalam Islam pergaulan-pergaulan sesama jenis. Yang dimaksud pergaulan sesama jenis itu yang mengarahkan kepada hubungan-hubungan keberpasangan, seksualitas dan sebagainya. Nanti bab itu akan masuk ketika kita bahas ke era-era Nabi Luth 'Alaihissalam.

Dua, tiga. Pelan-pelan sebentar. Sebelum sampai ketiga: artinya laki-laki dan perempuan saja melakukan keberpasangan tanpa mengikuti petunjuk _ayat_ sudah terancam. Apalagi laki-laki dengan laki-laki, perempuan dengan perempuan. Maka itu statusnya lebih rendah dibandingkan dengan yang pertama. 

Jadi Anda bisa bayangkan, zina aja statusnya sudah rendah sekali di hadapan Allah. Apalagi zina itu dilakukan dengan sesama jenis. Makanya wajar kalau bumi pun ikut marah, likuifaksi habis semua, longsor, gempa, banjir di mana-mana, tsunami. Kenapa?

Dan biasanya makin dekat ke kiamat dosa-dosa di masa lalu makin terakumulasi. Makin terakumulasi dan bentuknya paling aneh, makin aneh-aneh. 

Zaman Nabi Luth kan yang homo cuma laki-laki kan? Hubungan sama jenis cuma laki-laki kan. Nah nanti mendekat ke akhir-akhir zaman itu terakumulasi jadi makin aneh. Perempuan bisa ikutan. Dulu enggak ada. Sampai Nabi Luth perempuan itu cuma laki-laki aja. Sekarang ada enggak perempuan ikutan? Ada. 

Terus laki-laki pengin jadi perempuan. Ya sehomo-homonya homo di zaman Nabi Luth tetap laki-laki. Sehomo-homonya homo di zaman Nabi Luth tetap laki-laki. Yang sekarang berubah nama. "Siapa Nia Pak? Nama Kurnia Pak." Ya rendah. 

Jadi kalau makin turun makin rendah. Yang ini sudah rendah, turun ke bawah jadi lebih rendah lagi.

Yang ketiga tadi: kalau dipasangkan itu harus dari asal yang beda kan? 

Baik, sekarang begini. Kalau pasangan itu berjalan bersamaan atau berjalan bergantian? Samaan.  
Baik. Jadi Bapak kalau jalan keluar dari sini begini kan, tunggu dulu. Gitu. Melengkapi itu sama-sama. Saling melengkapi itu ya sama-sama. Saling menyempurnakan.

Makanya jangan pernah kalau berumah tangga harus merasakan semua sama. Ikut tidak. Kadang-kadang memang ada kekurangan di pihak A dilengkapi di B. Ada yang pergi harus berangkat, yang ini harus menunggu. Ada yang ini kerjakan, yang ini kemudian berdoa. Tidak harus semua disamaratakan.

Tidak ada misalnya suami harus sama, istri juga mengatakan suami harus sama. Tidak. Tapi tempatkan sesuai dengan fungsi yang telah Allah atur. Ini peran suami, ini peran istri. 

Kalau setiap hak dan kewajiban terjaga dan perannya dilakukan, itu insyaAllah akan muncul selanjutnya 3 hal. Tiga hal apa? Tiga hal itu. Teruskan ayatnya:

_Waja'ala bainakum mawaddataw warahmah_  
"Dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih sayang dan rahmat."

Sampai situ muncul tiga: _Sakinah_. Anda akan _sakinah_, tenang. 
Kalau jalannya bergantian. Kanan kiri. Di belakang bapak ke kantor mencari nafkah, istri mendoakan di belakang. Tapi kalau istri enggak ada kepercayaan, diintip terus sepanjang jalan, susah. Lagi WA ke partner gini susah, enggak akan selesai. 

Sama suami juga begitu. Istri di rumah dipercaya, diberikan bekal dan sebagainya, percaya bisa dirawat. Kalau ini sudah maju mau mundur terus kan susah juga, enggak akan pernah sampai ke tujuan.

Jadi ini bisa berjalan kalau saling melengkapi. Kalau mau dicari kekurangan namanya manusia pasti ada kurangnya. Pak, Bu, pasti ada kurangnya. Yang harus digali itu adalah tahu tanggung jawabnya. 

Jadi ibu belajar. Jangan-jangan selama ini sudah menjadi ibu puluhan tahun belum tahu kata Quran harus ngapain jadi ibu itu. Bapak juga begitu. Apa perannya, apa fungsinya.

Kenapa di surat Yusuf laki-laki jadi matahari, kenapa perempuan jadi rembulan? Kenapa jadi aneh kok rembulan seperti matahari. "Dengan kekuatan bulan aku menghukumu". Kenapa bulan lebih galak dibanding matahari? Nah itulah. Bukankah ada keindahan dalam kehidupan rumah tangga?

Kata Allah: "Aku ciptakan kau berpasangan". Dengan pasangan itu ada ketenangan: _Sakinah_. 
Maaf yang belum nikah ya, mudah-mudahan sebelum kiamat kurang 2 hari lah bisa terlaksana insyaAllah bisa terlaksana.

Kemudian dengan berpasangan itu ada _rahmah_, ada kasih sayang, ada perhatian. Biasanya makan enggak ingat siapa-siapa, sekarang mau beli makan pun masih ingat yang di rumah. Ada keterkaitan, ketertautan.

Kemudian ada _mawaddah_. _Mawaddah_ itu cinta dari segi materi, fisik. Dulu enggak pernah ngasih hadiah, sekarang masuk miladnya tiba-tiba dari kantor sudah menyiapkan sesuatu. Ibu sudah masak yang enak. "MasyaAllah ibu dapat hadiah iPhone terbaru". "Terima kasih banyak ya". Tiba-tiba KW misalnya. Kan gak apa-apa. 

Yang paling enak itu ibu yang nanam bunga mawar, udah bagus-bagus kan, suami mau romantis dipetik dari luar. _Alhamdulillah_.

Itulah _mawaddah_. Akumulasi dari _maddah_ menjadi _mawaddah_ dan itu bisa dirasakan.

Nah sekarang kalau Anda sudah mengalami itu: kenyamanan, ketenangan, keceriaan, hadirnya anak-anak dan sebagainya... Siapa yang bisa menciptakan itu? Siapa yang membuat semua itu? Siapa yang menanamkan itu? Anda katakan: Allah.

Kalau Anda sudah yakin itu Allah, lalu kenapa Anda mesti menolak dan melecehkan firman-Nya, dan menyoal serta mengolok-olok firman-Nya?

Yang paling aneh, Anda menikmati fasilitasnya. Allah perkenankan kau menikah, kau punya istri, punya anak, nyaman. Saat yang bersamaan engkau masih menodai firman-Nya. Coba para penista Al-Quran itu, kalau sedang bicara tentang Quran, menyoal isi Quran, bukankah saat bersamaan dia menikmati fasilitas yang Allah berikan?

Dan yang paling aneh itu menikmati fasilitas masih bermaksiat di hadapan pemberinya. Tarik ke dalam diri kita masing-masing. Itu poinnya. 

Poinnya Allah ingin tegaskan secara tauhid: "Aku yang tunggal, kalian yang berpasangan. Tapi jangan sampai fasilitas kehidupan yang Aku berikan menjadikan kalian menodai apa yang Aku firmankan."

Jelas sampai sini? Baik. Maka selesai kita di ayat yang ke-8.

---


bawah ya